Tampilkan postingan dengan label produk. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label produk. Tampilkan semua postingan

Jumat, 15 Oktober 2010

PRODUCT

Pengertian produk
Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dalam marketing, produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan.[1] Dalam tingkat pengecer, produk sering disebut sebagai merchandise. Dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk barang mentah dan dijual sebagai barang jadi. Produk yang berupa barang mentah seperti metal atau hasil pertanian sering pula disebut sebagai komoditas.
Kata produk berasal dari bahasa Inggris product yang berarti "sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya".[2] Bentuk kerja dari kata product, yaitu produce, merupakan serapan dari bahasa latin prōdūce(re), yang berarti (untuk) memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Pada tahun 1575, kata "produk" merujuk pada apapun yang diproduksi ("anything produced").[3] Namun sejak 1695, definisi kata product lebih merujuk pada sesuatu yang diproduksi ("thing or things produced"). Produk dalam pengertian ekonomi diperkenalkan pertama kali oleh ekonom-politisi Adam Smith.[4]
Dalam penggunaan yang lebih luas, produk dapat merujuk pada sebuah barang atau unit, sekelompok produk yang sama, sekelompok barang dan jasa, atau sebuah pengelompokan industri untuk barang dan jasa.

Produk Warisan Budaya Produksi Batik Harus Digenjot

Jakarta - Produksi batik nasional masih bisa ditingkatkan dari saat ini, sehingga bisa meningkatkan kontribusinya dalam ekspor produk tekstil. Dengan ini, batik akan terus menjadi salah satu produk kreatif berbasis budaya bangsa yang menjadi andalan untuk menghasilkan devisa.

"Produk tekstil kita menyumbangkan devisa mencapai Rp 50 triliun ke kas negara. Batik adalah bagian dari industri tekstil, dan kapasitasnya bisa digenjot hingga empat kali lipat," kata Menko Kesra Agung Laksono saat membuka Seminar Dinamika Batik Indonesia dan Pameran Batik Ikon Budaya Bangsa di aula Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI) Depok, Rabu (6/10).

Menurut Agung Laksono, batik Indonesia merupakan salah satu ikon budaya hasil kearifan bangsa Indonesia. Diperkirakan lebih dari 800.000 perajin dan pengusaha batik tersebar di hampir seluruh provinsi di Indonesia. "Potensi bisnisnya cukup besar, dan masih bisa digenjot untuk menambah devisa dari sektor industri kreatif berbasis budaya," tuturnya.

Agung Laksono juga meminta agar masyarakat tetap melestarikan produk batik yang telah dikukuhkan oleh United Nation of Education & Social Culture Organization (UNESCO) sebagai warisan budaya dunia nonbenda, salah satunya dengan berkomitmen terus memakai batik dalam berbusana, setidaknya satu hari dalam sepekan.

"Untuk hari pemakaian batik, kami serahkan kepada instansi pemerintah dan pemerintah daerah setempat. Apakah itu hari Senin, Selasa, atau Jumat. "Pemerintah pusat tidak akan mengatur hari pemakaian batik ini," kata Agung Laksono.

Dia juga mengajak masyarakat agar bangga dan cinta terhadap warisan budaya Indonesia, termasuk produk batik. "Kalau bukan kita sendiri yang menjaga warisan budaya, siapa lagi? Jangan sampai ada teknologi modern di luar negeri sana yang membuat desain dan motif seperti batik. Ini bisa menjadi ancaman atas kelanggengan batik nantinya," katanya.

Menurut Agung, para pakar dan pemerhati budaya berkumpul dan menuangkan pikirannya dalam seminar Dinamika Batik Indonesia 2010. Dengan ini diharapkan bisa merumuskan langkah konkret untuk menyelamatkan, melestarikan, dan memanfaatkan batik, terutama melalui inovasi dan kreativitas untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

"Melalui kegiatan pameran seperti ini, batik bukan sekadar didudukkan sebagai warisan budaya yang digelar secara seremonial, tetapi juga untuk digali dan dikembangkan menjadi kekuatan jati diri bangsa, sehingga mampu menjadi inspirasi bagi kemandirian ekonomi, memperkuat daya saing, dan meningkatkan peradaban bangsa," kata Agung Laksono.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, jumlah industri kecil dan menengah (IKM) batik mencapai 48.300 unit usaha yang menyerap 792.300 tenaga kerja dengan nilai ekspor 110 juta dolar AS. (Singgih BS/Andrian)

STRATEGI PENETAPAN NAMA PRODUK

A. Definisi Pengertian Merek / Merk / Brand
Merek adalah suatu nama, simbol, tanda, desain atau gabungan di antaranya untuk dipakai sebagai identitas suatu perorangan, organisasi atau perusahaan pada barang dan jasa yang dimiliki untuk membedakan dengan produk jasa lainnya. Merek yang kuat ditandai dengan dikenalnya suatu merek dalam masyarakat, asosiasi merek yang tinggi pada suatu produk, persepsi positif dari pasar dan kesetiaan konsumen terhadap merek yang tinggi.
Dengan adanya merek yang membuat produk yang satu beda dengan yang lian diharapkan akan memudahkan konsumen dalam menentukan produk yang akan dikonsumsinya berdasarkan berbagai pertimbangan serta menimbulkan kesetiaan terhadap suatu merek (brand loyalty). Kesetiaan konsumen terhadap suatu merek atau brand yaitu dari pengenalan, pilihan dan kepatuhan pada suatu merek.
Merek dapat dipahami lebih dalam pada tiga hal berikut ini :
1. Contoh brand name (nama) : nintendo, aqua, bata, rinso, kfc, acer, windows, toyota, zyrex, sugus, gery, bagus, mister baso, gucci, c59, dan lain sebagainya.
2. Contoh mark (simbol) : gambar atau simbol sayap pada motor honda, gambar jendela pada windows, gambar kereta kuda pada california fried chicken (cfc), simbol orang tua berjenggot pada brand orang tua (ot) dan kentucky friend chicken (kfc), simbol bulatan hijau pada sony ericsson, dan masih banyak contoh-contoh lainnya yang dapat kita temui di kehidupan sehari-hari.
3. Contoh trade character (karakter dagang) : ronald mcdonald pada restoran mcdonalds, si domar pada indomaret, burung dan kucing pada produk makanan gery, dan lain sebagainya.
B. Jenis-Jenis Dan Macam-Macam Merek
1. Manufacturer Brand
Manufacturer brand atau merek perusahaan adalah merek yang dimiliki oleh suatu perusahaan yang memproduksi produk atau jasa. Contohnya seperti soffel, capilanos, ultraflu, so klin, philips, tessa, benq, faster, nintendo wii, vit, vitacharm, vitacimin, dan lain-lain.
2. Private brand atau merek pribadi adalah merek yang dimiliki oleh distributor atau pedagang dari produk atau jasa seperti zyrex ubud yang menjual laptop cloud everex, hipermarket giant yang menjual kapas merek giant, carrefour yang menjual produk elektrinik dengan merek bluesky, supermarket hero yang menjual gula dengan merek hero, dan lain sebagainya.
- Ada juga produk generik yang merupakan produk barang atau jasa yang dipasarkan tanpa menggunakan merek atau identitas yang membedakan dengan produk lain baik dari produsen maupun pedagang. Contoh seperti sayur-mayur, minyak goreng curah, abu gosok, buah-buahan, gula pasir curah, bunga, tanaman, dan lain sebagainya.
C. Strategi Merek / Merk (Brand Strategies)
Produsen, distributor atau pedagang pengecer dapat melakukan strategi merek sebagai berikut di bawah ini :. Individual Branding / Merek Individu
Individual branding adalah memberi merek berbeda pada produk baru seperti pada deterjen surf dan rinso dari unilever untuk membidik segmen pasar yang berbeda seperti halnya pada wings yang memproduksi deterjen merek so klin dan daia untuk segmen pasar yang beda.
2. Family Branding / Merek Keluarga
Family branding adalah memberi merek yang sama pada beberapa produk dengan alasan mendompleng merek yang sudah ada dan dikenal mesyarakat. Contoh famili branding yakni seperti merek gery yang merupakan grup dari garudafood yang mengeluarkan banyak produk berbeda dengan merek utama gery seperti gery saluut, gery soes, gery toya toya, dan lain sebagainya. Contoh lain misalnya yaitu seperti motor suzuki yang mengeluarkan varian motor suzuki smash, suzuki sky wave, suzuki spin, suzuki thunder, suzuki arashi, suzuki shodun ,suzuki satria, dan lain-lain.

Produk Nokia dan Sony Ericsson Ramah Lingkungan

Rabu, 26 Mei 2010 | 17:30 WIB
Besar Kecil Normal


Produsen Game terbesar Jepang, Nintendo mengeluarkan produk baru, 'DSI' dengan layar 3.25 inch dan kamera digital sebesar 300,000 pixel. Nintendo ini akan muali dipasarkan tahun depan. Kamis 02/10/08. AFP PHOTO / Yoshikazu TSUNO


TEMPO Interaktif, Tokyo - Organisasi pelestarian lingkungan Greenpeace menilai produk yang dihasilkan Nokia dan Sony Ericsson ramah lingkungan. Sebaliknya, Nintendo dan Toshiba adalah perusahaan yang menghasilkan perangkat yang tidak "hijau".

Selama kuartal pertama di tahun ini, Greenpeace telah mensurvey 18 perusahaan penghasil barang-barang elektronik. Organisasi ini meneliti bagaimana proses produksi barang-barang yang dianggap membahayakan lingkungan, bagaimana perusahaan mendaur ulang sampah elektronik dan menerapkan efisiensi bahan bakar untuk mencegah pemanasan global.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana cara perusahaan mengurangi penggunaan bahan-bahan berbahaya dalam produk mereka, yakni polyvinyl chloride (PVC) dan brominated flame retardants (BRFs). Kedua bahan ini dianggap berbahaya karena sulit didaur ulang dan membahayakan tubuh manusia.

"Nintendo menempati posisi paling bawah sebagai perusahaan yang tidak ramah lingkungan," kata peneliti Greenpeace Iza Kruszewska di Tokyo, hari ini.

Toshiba pernah mengklaim sebagai perusahaan pertama yang menghasilkan produk elektronik ramah lingkungan justeru terjungkal karena terkena pinalti. Perusahaan itu tak dapat memenuhi janjinya, yakni mulai 1 April lalu semua produknya sudah bebas polyvinyl chloride (PVC) dan brominated flame retardants (BRFs).

Setelah Nokia dan Sonny Ericsson berada di posisi pertama dan kedua sebagai perusahaan ramah lingkungan, disusul Philips dan Motorola pada posisi ketiga dan keempat. Sementara Apple mendapat ranking kelima.

Pengertian Produk

Dalam bisnis, produk adalah barang atau jasa yang dapat diperjualbelikan. Dalam marketing, produk adalah apapun yang bisa ditawarkan ke sebuah pasar dan bisa memuaskan sebuah keinginan atau kebutuhan.[1] Dalam tingkat pengecer, produk sering disebut sebagai merchandise. Dalam manufaktur, produk dibeli dalam bentuk barang mentah dan dijual sebagai barang jadi. Produk yang berupa barang mentah seperti metal atau hasil pertanian sering pula disebut sebagai komoditas.
Kata produk berasal dari bahasa Inggris product yang berarti "sesuatu yang diproduksi oleh tenaga kerja atau sejenisnya".[2] Bentuk kerja dari kata product, yaitu produce, merupakan serapan dari bahasa latin prōdūce(re), yang berarti (untuk) memimpin atau membawa sesuatu untuk maju. Pada tahun 1575, kata "produk" merujuk pada apapun yang diproduksi ("anything produced").[3] Namun sejak 1695, definisi kata product lebih merujuk pada sesuatu yang diproduksi ("thing or things produced"). Produk dalam pengertian ekonomi diperkenalkan pertama kali oleh ekonom-politisi Adam Smith.[4]
Dalam penggunaan yang lebih luas, produk dapat merujuk pada sebuah barang atau unit, sekelompok produk yang sama, sekelompok barang dan jasa, atau sebuah pengelompokan industri untuk barang dan jasa.


http://id.wikipedia.org/wiki/Produk