Tampilkan postingan dengan label process. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label process. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Oktober 2010

Proses Pembuatan Batik

* Cara Membuat Batik

Berikut ini adalah alat dan bahan yang harus disiapkan untuk membuat batik tulis :

o Kain mori (bisa terbuat dari sutra atau katun)
o Canting sebagai alat pembentuk motif,
o Gawangan (tempat untuk m enyampirkan kain)
o Lilin (malam) yang dicairkan
o Panci dan kompor kecil untuk memanaskan
o Larutan pewarna


Adapun tahapan-tahapan dalam proses pembutan batik tulis ini:

1.

Langkah pertama adalah membuat desain batik yang biasa disebut molani. Dalam penentuan motif, biasanya tiap orang memiliki selera berbeda-beda. Ada yang lebih suka untuk membuat motif sendiri, namun yang lain lebih memilih untuk mengikuti motif-motif umum yang telah ada. Motif yang kerap dipakai di Indonesia sendiri adalah batik yang terbagi menjadi 2 : batik klasik, yang banyak bermain dengan simbol-simbol, dan batik pesisiran dengan ciri khas natural seperti gambar bunga dan kupu-kupu. Membuat design atau motif ini dapat menggunakan pensil.
2.

Setelah selesai melakukan molani, langkah kedua adalah melukis dengan (lilin) malam menggunakan canting (dikandangi/dicantangi) dengan mengikuti pola tersebut.
3.

Tahap selanjutnya, menutupi dengan lilin malam bagian-bagian yang akan tetap berwarna putih (tidak berwarna). Canting untuk bagian halus, atau kuas untuk bagian berukuran besar. Tujuannya adalah supaya saat pencelupan bahan kedalam larutan pewarna, bagian yang diberi lapisan lilin tidak terkena.
4.

Tahap berikutnya, proses pewarnaan pertama pada bagian yang tidak tertutup oleh lilin dengan mencelupkan kain tersebut pada warna tertentu .
5.

Setelah dicelupkan, kain tersebut di jemur dan dikeringkan.
6.

Setelah kering, kembali melakukan proses pembatikan yaitu melukis dengan lilin malam menggunakan canting untuk menutup bagian yang akan tetap dipertahankan pada pewarnaan yang pertama.
7.

Kemudian, dilanjutkan dengan proses pencelupan warna yang kedua.
8.

Proses berikutnya, menghilangkan lilin malam dari kain tersebut dengan cara meletakkan kain tersebut dengan air panas diatas tungku.
9.

Setelah kain bersih dari lilin dan kering, dapat dilakukan kembali proses pembatikan dengan penutupan lilin (menggunakan alat canting)untuk menahan warna pertama dan kedua.
10.

Proses membuka dan menutup lilin malam dapat dilakukan berulangkali sesuai dengan banyaknya warna dan kompleksitas motif yang diinginkan.
11.

Proses selanjutnya adalah nglorot, dimana kain yang telah berubah warna direbus air panas. Tujuannya adalah untuk menghilangkan lapisan lilin, sehingga motif yang telah digambar sebelumnya terlihat jelas. Anda tidak perlu kuatir, pencelupan ini tidak akan membuat motif yang telah Anda gambar terkena warna, karena bagian atas kain tersebut masih diselimuti lapisan tipis (lilin tidak sepenuhnya luntur). Setelah selesai, maka batik tersebut telah siap untuk digunakan.
12.

Proses terakhir adalah mencuci kain batik tersebut dan kemudian mengeringkannya dengan menjemurnya sebelum dapat digunakan dan dipakai.


http://pesonabatik.site40.net/Cara_Membuat_Batik.html

Pengetahuan dasar mengenai proses pengadaan barang/jasa

Suatu hari saya dapat kerjaan/projek di sebuah perusahaan, dimana diundang langsung untuk menghadap kepala unit yang berwenang dalam hal pengurusan kebutuhan pekerjaan tersebut. Kaget karena belum pernah menghadapi pemesanan aplikasi dari sebuah perusahan besar, dimana biasanya terdapat syarat – syarat yang harus dipenuhi yaitu untuk administrasi sebelum memulai pengerjaan.
Tetapi karena penanggung jawab pemesan tersebut sudah percaya dengan hasil kerja yang bisa didapat maka tidak sungkan – sungkan untuk membimbing saya dalam bagaimana mengurus proses administrasi yang dibilang cukup memusingkan bagi pemula. Singkat nya pekerjaan tersebut dapat diselesaikan tepat waktu dan mendapatkan pengalaman penting bagaimana cara menghadapi proses administrasi berkenaan dengan pekerjaan menyediakan jasa pembuatan software bagi perusahaan.
Disini saya akan sedikit berbagi bagaimana menghadapi hal tersebut, tidak terlalu lengkap karena ini pengalaman pertama juga ditambah dari referensi yang didapat dari teman dekat.
Kita akan mulai dari jenis – jenis pemilihan penyedia barang / jasa, yaitu :
  1. Pembelian Langsung
  2. Penunjukan Langsung
  3. Pemilihan Langsung
  4. Pelelangan
Penjelasan sebagai berikut.
1. Pembelian Langsung
Pembelian langsung adalah proses pengadaan barang/jasa secara langsung tanpa menggunakan kontrak, surat pemesanan barang dan lain-lain terhadap barang/jasa yang diperlukan.
Terdapat batasan nilai pada jenis ini tergantung kebijaksanaan perusahaan yang mengadakan pembelian langsung dan berdasarkan sumber dana nya, biasanya nilainya tidak lebih dari  20 juta, contoh :
- Dana A => dibawah 5 juta,-
- Dana B => dibawah 10 juta,-
Proses pengadaan dan pembayaran dilakukan secara langsung kepada penyedia barang layaknya seperti transaksi jual beli. Proses ini biasa nya jika perusahaan besar dilakukan oleh unit kerja bersangkutan.
Administrasi yang terdapat pada proses ini terbagi menjadi beberapa bagian tergantung batasan nilai dan kebijaksanaan perusahaan, contoh :
- dibawah 1 juta, cukup melampirkan kuitansi bermaterai dan bon pembelian.
- dari 1 juta sampai 10 juta, melampirkan kuitansi bermaterai, PO (Purchase Order), Faktur Pajak dan Invoice (Tagihan).
Saat melaksanakan pekerjaan jasa oleh penyedia jasa, akan diawasi oleh pejabat berwenang. Setelah pekerjaan selesai 100%, maka dibuat Berita Acara Pekerjaan Selesai yang ditandatangani oleh pejabat berwenang  dan penyedia jasa, Berita Acara ini adalah sebuah dokumen yang dibuat  dan disediakan juga diisi oleh pejabat berwenang.
2. Penunjukan Langsung
Penunjukan langsung adalah proses pengadaan barang/jasa yang dilakukan dengan menunjuk 1 penyedia barang/jasa yang paling layak untuk mendapatkan pekerjaan pengadaan barang/jasa. Proses ini bisa dilakukan oleh unit kerja yang membutuhkan atau oleh unit logistik di perusahaan tersebut.
Terdapat batasan nilai pada jenis ini tergantung kebijaksanaan perusahaan yang mengadakan penunjukan langsung dan berdasarkan sumber dana nya, biasanya nilainya tidak lebih dari  100 juta, contoh :
- Dana A => 5 juta – 50 juta
- Dana B => 5 juta – 100 juta
Pertama perusahaan yang membutuhkan akan mengumumkan pengadaan barang/jasa, dengan menggunakan media yang bisa dipakai, seperti :
- Website
- Koran
- Televisi
- Undangan
Biasanya akan dipakai undangan dari perusahaan (unit kerja / unit logistik) kepada penyedia barang/jasa yang dipilih, maksud dipilih disini bukan 1 penyedia barang/jasa, karena akan diadakan kualifikasi terlebih dahulu terhadap penyedia barang/jasa tersebut untuk menentukan siapa yang paling pantas menyediakan barang/jasa.
Undangan dapat diambil oleh penyedia barang/jasa atau dikirim (dalam kondisi tertentu). Namun secara teknis pemberitahuan pengambilan undangan atau pengiriman akan dilakukan terlebih dahulu oleh pejabat pengadaan dengan menghubungi penyedia barang/jasa via telepon atau sebagainya.
Selain Undangan juga akan disertakan beberapa dokumen lainya, seperti :
1. Dokumen Pengadaan, yang berisi penjelasan dan aturan mengenai pengadaan barang/jasa.
2. Request For Quotation (RFQ), yang berisi daftar barang/jasa dan spesifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan beserta isian harga yang harus diisi oleh penyedia barang/jasa.
3. Daftar Kuantitas & Spesifikasi (DKS), hampir sama dengan RFQ.
Jika dipandang dibutuhkan penjelasan oleh penyedia barang/jasa atas beberapa hal didalam Dokumen Pengadaan, maka didapat dilaksanakan proses penjelasan pekerjaan (aanwijzing) oleh pejabat pengadaan. Hasilnya akan dituangkan dalam Berita Acara Rapat Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing).
Sesuai dengan Dokumen Pengadaan, maka pada waktu yang telah ditentukan, penyedia barang/jasa harus menyampaikan dokumen penawaran kepada pejabat pengadaan.  Dokumen Penawaran terdiri dari :
- Surat / Proposal penawaran, dengan syarat : berkop surat perusahaan, bertanggal, bermaterai, ditujukan kepada Pejabat Pembuat Keputusan di perusahaan, mencantumkan nilai penawaran dalam angka dan huruf, mencantumkan nama pimpinan penyedia barang/jasa sesuai Akte, ditandatangani dan dicap.
- Melampirkan Quotation (penawaran barang/jasa dengan spesifikasi dan harga penawaran yang detail.
Pada jenis penyedia jasa seperti pembuatan software, biasanya akan diadakan kegiatan kualifikasi teknis, yaitu dengan bentuk seperti presentasi berupa flowchart/gambaran dari software yang akan dibuat oleh penyedia jasa beserta penjelasan fungsionalitas dan sebagainya.
Kemudian Dokumen Penawaran tersebut akan dievaluasi oleh perusahaan yang menyangkut persyaratan administrasi, teknis, dan harga.
Terkadang dan juga bisa dibilang sering, perusahaan yang membutuhkan barang/jasa akan melakukan klarifikasi dan negoisasi atas Dokumen Penawaran. Jika dilakukan proses klarifikasi dan negoisasi, maka hasilnya akan dituangkan dalam Berita Acara Klarifikasi dan Negoisasi.
Kemudian akan ditetapkan penyedia barang/jasa yang berhak menyediakan barang/jasa dengan Surat Penetapan Penyedia Barang/Jasa.
Setelah ditetapkan dan diberitahukan kepada penyedia barang/jasa yang terpilih, maka dilakukan penandatanganan kontrak berupa Surat Perintah Kerja (SPK) dari perusahaan yang akan ditandatangani oleh Pejabat Pembuat Keputusan diperusahaan dan Penyedia Barang/Jasa. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari SPK, tercantum juga Purchase Order (PO) atau Surat Pesanan Barang/Jasa yang harus diadakan oleh penyedia barang/jasa.
Pada jenis penyedia jasa seperti pembuatan software, dikarenakan kompleksitas proses penyediaan jasa tersebut biasanya penyedia jasa membuat sebuah Dokumen Statement Of Work (SOW) yang akan ditandatangani oleh pejabat yang berwenang diperusahaan dan pimpinan penyedia jasa, yang berisi mulai dari detil fungsionalitas yang akan diimplementasi, jadwal pengerjaan, jadwal dan proses User Acceptance Test (UAT), jadwal Pelatihan, jadwal implementasi ke production, aturan proses pengubahan spesifikasi/fungsionalitas, aturan keterlambatan pekerjaan, aturan penerimaan hasil pekerjaan, aturan lisensi hasil pekerjaan,  aturan jaminan/garansi, aturan kerahasian data perusahaan, dan sebagainya yang akan disetujui dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dengan menyertakan tanggal dan bermaterai.
Setelah pekerjaan selesai, dimana pada jenis penyedia jasa seperti pembuatan software yaitu setelah selesai dilakukan UAT maka dilakukan serah terima. Serah terima pekerjaan akan dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima Pekerjaan.
Proses pembayaran tergantung peraturan dari perusahaan dan kesepakatan, biasanya dengan aturan sebagai berikut :
- DP, 30%
- 50% pekerjaan yang sudah diselesaikan, 30%
- 100% pekerjaan sudah selesai, 35%
- Selesai masa jaminan/garansi, 5%
Format pembayaran berbeda-beda, tinggal disesuaikan dengan keadaan.
Setiap proses pembayaran, sebelumnya penyedia barang/jasa harus menyerahkan Tagihan (Invoice) atau Surat Permohonan Pembayaran, proses pembayaran biasanya memiliki tenggat waktu dari tanggal Tagihan(Invoice) diterima oleh perusahaan, sesuai dengan kesepakatan yang terdapat pada Kontrak atau SOW, jika melebihi tenggat waktu maka biasanya dikenakan hukuman tergantung kesepakatan.
Jika pembayaran sudah dilakukan biasanya akan dibuat Berita Acara Pembayaran yang ditandatangani oleh kedua belah pihak.
Demikian beberapa  jenis – jenis pemilihan penyedia barang / jasa yang biasanya diterapkan diperusahaan – perusahaan. Tetapi jangan kaget jika ada beberapa langkah yang dilewati atau memang tidak ada juga ada tambahan, karena tidak semua perusahaan memiliki proses yang sama.
Untuk jenis – jenis pemilihan penyedia barang / jasa yang lain akan kita lanjutkan lain waktu.

http://www.sulaeman.com/experience/pengetahuan-dasar-mengenai-proses-pengadaan-barangjasa-ed-1/

MENJALANKAN SEBUAH USAHA

Salah satu keputusan penting bagi seorang calon wirausahawan adalah keputusan untuk memulai usaha. Keputusan ini diambil setelah melihat dan mempelajari berbagai fakta yang ada dan terjadi dalam kehidupan usaha. Berangkat dari fakta bisnis dibuatlah rencana usaha dengan mengacu pada tingkat kelayakan usaha yang akan dijalankan. Memulai suatu usaha dengan konsep untung-untungan sangat berbahaya. Memulai usaha yang sudah dengan perencanaan dan studi yang matang saja masih sering ditemui kegagalan, apalagi kalau kita untung-untungan karena latah. Namun demikian kita tidak bisa menyangkal bahwa ada wirausahawan yang berhasil dari usaha yang untung-untungan, tetapi prosentasenya sangatlah kecil. Hal ini sangat terkait erat dengan sikap mental wirausahawan itu sendiri.
Dalam memulai suatu usaha baru, sebenarnya ada empat syarat yang harus diperhatikan oleh seorang wirausahawan agar terhindar dari kesalahan yang sebenarnya tidak perlu terjadi. Empat syarat itu biasa dikenal dengan sebutan “Empat K”, yaitu :
Memulai sebuah usaha baru à“Empat K”, yaitu :
1 KONDISI
Dalam memulai usaha, tidak ada perusahaan yang berhasil dengan kondisi yang salah. Jadi, berbisnislah dengan keadaan dan tempat yang tepat atau pada kondisi yang tepat. Sebagai contoh : Sebuah perusahaan yang menjual peralatan listrik yang mencoba menjual produknya di daerah yang belum terjangkau aliran listrik, jelas yang terjadi adalah perusahaan itu gagal dalam penjualan. Sebuah perusahaan menjual pupuk pada tempat orang yang banyak menjadi nelayan maka dagangannya akan kurang peminatnya.
2 KAPITAL
Pada saat mulai usaha dibutuhkan uang, uang itu disebut modal atau kapital. Modal itu digunakan dari usaha masih dalam perencanaan sampai usaha benar-benar dijalankan. Dari mana modal itu didapat? Bagaimana cara mendapatkannya? Oleh karena itu sangat dibutuhkan modal untuk mendirikan sebuah usaha ataupun lembaga.
3 KAPASITAS
Seseorang yang melibatkan diri dalam dunia usaha, harus mampu mengelola dan menjalankan usaha itu. Sering dikatakan perkembangan usaha kecil sangat ditentukan oleh kapasitas orang yang mengelola dan menjalankannya. Seseorang apabila kapasitasnya tidak memadai baik secara manajerial maupun mental, dimungkinkan akan tidak berhasil. Kemampuan seseorang harus sesuai dengan usaha yang ia dirikan bukan menyalahinya. Karena jika menyalahi kapasitasnya sendiri yang tidak sesuai dengan usahanya akan mempengaruhi usahanya tersebut.
4 KARAKTER
Karakter ini menyangkut watak atau pembawaan dari wirausaha itu sendiri. Ternyata survey membuktikan bahwa memang ada hubungan antara karakter pelaku usaha (wirausahawan) dengan pertumbuhan usahanya. Dalam hal ini, watak/karakter pengusaha itu sangat berpengaruh terhadap usahanya. Karakter pengusaha ini sebaiknya memungkinkan terselenggarakannya usaha ke arah pertumbuhan dan perkembangan usaha. Berusahalah berkarakter yang baik sehingga usaha yang dijalankan diharapkan baik pula.
Suasana kerja yang harmonis, nyaman dan bergairah tercipta tidak terlepas dari perilaku pimpinan usaha. Karakter pengusaha akan tercermin dari suasana kerja.
Apapun kemungkinan yang akan terjadi, namun yang terpenting adalah Anda mengambil keputusan untuk segera memulai usaha, bagaimanapun kondisi Anda. jangan lagi menunda-nunda kesempatan, ambil sikap.
Selain dari penjelasan diatas akan dijelaskan sedikit tentang bagaimana menjalankan sebuah usaha.
· Miliki gambaran yang jelas transaksi keuangan
· Tentukan titik impas (bep)
· Usahakan biaya material semurah-murahnya
· Hilangkan segala sesuatu yang tidak berguna
· Usahakan untuk memperoleh laba besar
· Pajanglah produk anda secara menarik
· Usahakan setiap pembeli menjadi langganan tetap
· Kontrollah piutang anda
· Jalankan à go


http://cintaumiku.blogspot.com/2010/02/menjalankan-sebuah-usaha.html

Proses Penggilingan Teh Hitam

Pelayuan pucuk

Pucuk teh yang telah dipetik akan terjadi perubahan – perubahan senyawa polisacharida dan protein. Ini mengakibatkan perubahan gula didalam daun yang dilayukan. Kandungan asam amino akan meningkat demikian pula dengan asam - asam organik lainnya. Semua perubahan ini dalam istilah pengolahan disebut sebagai proses pelayuan hal ini memberi pengaruh terhadap mutu teh.

Perubahan – perubahan kimiawi ini akan terganggu apabila pucuk terkena udara panas secara berlebihan atau pucuk mengalami kerusakan mekanis. Agar pucuk dapat digiling dengan baik pada proses penggilingan maka pucuk harus lentur. Oleh sebab itu kandungan air pucuk harus dikurangi dengan cara menghembuskan angin dengan RH rendah melalui pucuk. Pelayuan fisik ini dapat dilaksanakan dengan menggunakan udara panas dengan waktu kurang dari 6 jam.

Kerataan tingkat layu fisik sangat menentukan mutu teh. Hasil petikan pucuk yang kasar dan rusak tidak akan menghasilkan mutu yang baik. Kira – kira 65 % air yang terkandung di dalam pucuk segar harus dihilangkan selama proses pelayuan, agar pucuk layu cukup lentur dan lemas untuk dapat digiling tanpa terpotong-potong.

Di dalam praktek pelayuan dilakukan dengan menggunakan kontak layuan ( Witehring trough ) atau dengan menggunakan rak – rak kayu yang ditumpuk. Di ujung kotak atau rak terdapat kipas yang berfungsi untuk menarik hawa panas yang dihasilkan dari mesin pengeringan yang terletak disebelah bawah kamar pelayuan.

Penggilingan Pucuk Layu

Tujuan utama penggilingan dalam pengolahan teh hitam adalah :
Mememarkan dan menggiling seluruh bagian pucuk agar sebanyak mungkin sel – sel daun mengalami kerusakan sehingga proses fermentasi dapat berlangsung secara merata.

Memperkecil daun agar tercapai ukuran yang sesuai dengan ukuran grade – grade teh yang diharapkan oleh pemasaran.

Memeras cairan sel daun keluar sehingga menempel pada seluruh permukaan partikel – pertikel teh.

Mesin – mesin dan peralatan yang digunakan terdiri dari :

Mesin penggilingan Open Top Roller( OT ) yaitu sebuah selinder yang terbuka di bagian atasnya dan bergerak memutar horizontal di atas sebuah meja yang dilengkapi dengan jalur – jalur gigi dan kerucut tumpul pada titik pusatnya, alat ini terbuat dari bahan metal yang tahan karat dimana kecepatan putarannya 42 rpm.

Mesin penggiling press Cap Roller ( PC ) yang bentuknya sama dengan OT. Hanya saja penekan atau press cap untuk memberikan tekanan pada teh yang sedang digiling.

Mesin giling Rotervance ( RV ) yaitu sebuah silinder yang berukuran garis tengah inci ( 20 cm ) yang diletakan horizontal. Di dalam selinder ini terdapat as yang dilengkapi dengan sirip – sirip spiral pengisi. Pada bagian ujung terdapat plat pengatur tekanan berbentuk silang. As berputar dengan kecepatan 40 – 46 rpm tergantung dari kebutuhan.

Mesin ayak pemecah gumpalan teh atau Ballbreaker sifter ( BBS ). yang berputar horizontal dengan rpm 140 dilengkapi dengan konveyor pengisi untuk mengatur kerataan jumlah teh yang diayak.

Proses penggilingan dapat juga dikatakan proses sortasi basah., karena pada tahap ini hasil penggilingan akan berbentuk beberapa jenis bubuk teh : bubuk – 1, bubuk- 2, bubuk-3, bubuk-4 dan yang paling kasar disebut badag. Bubuk –1 dihasilkan dari pengayakan hasil pertama dari gilingan kedua dan demikian selanjutnya.

Urutan proses penggilingan di pabrik teh Maleber disusun sebagai berikut ( salah satu dari program giling ) : gilingan pertama menggunakan OT selama 40 Menit gilingan kedua : seluruh hasil gilingan pertama digiling ulang dengan rotervane 8” pengayakan hasil gilingan rotervane 8” (bubuk–1).Penggilingan ketiga menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-1 pengayakan hasil gilingan PC ( bubuk – 2 ). Penggilingan keempat menggunakan PC untuk sisa pengayakan ke-2 pengayakan hasil gilingan PC ( bubuk –3 dan badag )

Penggilingan PC memakan waktu 30 menit dengan pemberian tekanan 2 x 10 menit dan melepas tekanan ( Kirab ) 2 x 5 menit.

Berbagai jenis program digunakan dalam praktek oleh pabrik – pabrik teh hitam di Indonesia. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah bahwa proses penggilingan ini disertai oleh proses fermentasi.

Proses fermentasi memerlukan pengaturan waktu yang tepat. Oleh sebab itu setiap program giling harus di tunjang oleh kelengkapan mesin yang tepat dan cukup jumlahnya dengan layout penempatan yang tepat pula. Kesemuanya disesuaikan pula dengan potensi hasil kebunnya. Mutu hasil akhir pengolahan teh hitam yang mantap ( konstan ) dari hari ke hari, merupakan tujuan yang utama.

Didalam tahap proses penggilingan ini pula, dipersiapkan dan dibentuk ukuran teh, sehinnga pada tahap sortasi teh tersebut sudah dalam ukuran yang sama.

Hasil penggilingan dan pengayakan basah yang baik, adalah yang dapat menghasilkan persentase yang setinggi mungkin untuk bubuk 1 dan 2 dengan ukuran teh yang kecil. Persentase bubuk 1 dan bubuk 2 harus sama dengan persentase bagian muda atau halus dari analisa pucuknya, dan kisama pula dengan persentase mutu ke 1 hasil sortasi keringnya.

Waktu lama fermentasi dihitung ketika pucuk layu masuk kedalam mesin giling petama sampai bubuk hasil giling pertama dimasukan kedalam mesin pengering. Agar semua bubuk basah yang dihasilkan setiap penggilingan mengalami waktu lama fermentasi yang sama, diperlukan perhitungan penyesuaian output gilingan dan input ( kapasitas ) mesin pengeringnya . Untuk itu setiap bubuk hasil penggilingan harus ditimbang dan dicatat. program giling diatas ternyata dapat menghasilkan bubuk 1 dan bubuk 2 masing –masing 30 % dan 40 % ( jumlah 78 % sampai 80 %)

Ruang penggilingan memerlukan kelembaban udara 95 % untuk menjaga agar tidak terjadi penguapan air dari teh yang sedang digiling. Khususnya bubuk basah yang sedang menungggu giliran masuk kedalam mesin pengering. Pengurangan kadar air dalam bentuk basah dapat menghambat proses oksidasi. Udara dalam ruangan harus segar dan cukup karena proses oksidasi memerlukan oksigen yang cukup pula.

Karena teh sangat peka terhadap bau-bauan, maka ruangan dan peralatan harus dijaga agar selalu bersih dan tidak bau. Air yang bersih untuk mencuci peralatan dan lantai ruangan harus cukup tersedia.

Pengeringan

Selain menghentikan proses oksidasi dalam bubuk teh basah, pengeringan bertujuan pula untuk menurunkan kandungan air didalam teh sampai +3 % kandungan air yang rendah ini bertujuan agar hasil pengeringan dapat mempertahankan mutu baiknya.

Mesin pengering konvensional yang hingga sekarang masih banyak digunakan industri teh hitam, adalah Endles Chain pressure Dryer ( ECP ). Mesin ini mengeringkan teh diatas rantai – rantai baki. Mesin dengan rantai – rantai baki 2 tingkat disebut “two stage ECP” yang bertingkat 3 disebut “three stage ECP” dan yang 4 disebut “four stage ECP”. Jenis ECP yang mutakhir yang banyak digunakan adalah jenis two stage.

Udara panas dengan suhu + 98°C dihembuskan dari bawah melalui lapisan teh diatas rantai terbawah kemudian keluar melalui lapisan teh diatas rantai baki paling atas. Suhu udara yang keluar dari mesin pengering ada sekitar 49°C kurang lebih 20 menit diperlukan untuk mngeringkan teh bubuk hingga kadar airnya mencapai 3 %.

Proses pengeringan bersama dengan proses penggilingan merupakan bagian dari pengolahan teh hitam yang harus dijalankan sesuai dengan tahapan pelaksanaan pekerjaan.

Sortasi keringan dan penyimpanan

Tujuan utama dari sortasi kering ini adalah memisahkan ukuran – ukuran teh yang terjadi akibat proses penggilingan menjadi kelompok – kelompok grade teh yang sesuai dengan permintaan pasaran teh sekarang ( Internasional ). Karena teh kering sangat peka terhadap kelembaban udara (sangat higroskopis) maka proses sortasi kering ini harus dilaksanakan sesederhana dan secepat mungkin.

Grade – grade ( jenis- jenis ) teh hitam yang dihasilkan sebagian besar oleh pabrik – pabrik di Indonesia sekarang adalah :

1. BOP = Broken Orange Pecco

2. BOPF = Broken Orange Pecco Pannings

3. PF = Pecco Panings

4. Dust

5. BP = Broken Pecco

6. BT = Broken Tea

Persentase grade pertama ini umumnya dapat mencapai 70 % hingga 85 % dari semua teh yang dihasilkan tergantung dari mutu standar petikan dan kondisi pucuknya. Besar kecilnya ukuran, sehingga sesuai dengan permintaan standar ukuran pasaran teh hitam, tergantung dari standar petikan, derajat layuan dan program gilingnya.

Mesin – mesin pengayak yang digunakan dalam sortasi kering, dibedakan satu dengan yang lainnya oleh jenis geraknya. Rotating sifter adalah mesin ayak yang gerakannya berputar horizontal. Sedangkan yang gerakannya maju mundur disebut mesin ayak Reciprocating dan yang naik turun disebut Vibrating Sifter disamping itu mesin pemisah tulang Electrostatic Stalk Separator. Winnower adalah mesin pemisah ukuran teh menurut berat jenis dengan menggunakan kipas penghisap angin.

Mesin ayak yang gerakannya maju mundur digunakan untuk memisahkan ukuran – ukuran yang bentuknya memanjang dari ukuran – ukuran teh yang bentuknya bulat.

Segera setelah selesai proses sortasi kering ini, semua teh ditimbang menurut jenis gradenya untuk kemudian dimasukan kedalam peti penyimpanan ( peti miring atau tea bin ). Dapat dibedakan bahwa sejumlah hasil timbangan grade-grade teh tersebut akan lebih besar dari pada berat teh keringnya. Besar kecilnya persentase overweight ini tergantung dari kelembaban udara ruang sortasi dan lamanya waktu yang diperlukan untuk proses sortasi.

Penyimpanan teh dalam peti miring akan memberikan kesempatan bagi suatu proses pematangan mutu dan mengumpulkan teh menurut jenisnya sehingga dapat di kemas dalam jumlah yang sama pada setiap kali pengepakan.

Semua rangkaian kegiatan proses produksi dari mulai pelayuan s/d sortasi masih menggunakan system ortodok (jaman dulu), namun hasilnya tidak kalah dengan system yang modern.

Jumat, 15 Oktober 2010

Contoh Pentingnya Proses

Process

Mengacu pada sistem yang digunakan untuk membantu organisaasi dalam memberikan layanan. Bayangkan Anda berjalan ke Burger King dan Anda memesan Whopper Meal dan Anda mendapatkan mengirimkannya dalam waktu 2 menit. Apa proses yang memungkinkan Anda untuk mendapatkan pelayanan yang efisien? Bank yang mengirimkan Kartu Kredit secara otomatis saat pelanggan mereka berumur satu telah berakhir lagi memerlukan proses yang efisien untuk mengidentifikasi tanggal kadaluwarsa dan pembaruan. Sebuah pelayanan yang efisien yang menggantikan kartu kredit lama akan menumbuhkan loyalitas konsumen dan kepercayaan perusahaan.


http://www.learnmarketing.net/servicemarketingmix.htm